another blog dzay

23 Oktober 2009

Surat terbuka untuk Bapak Presiden

Filed under: munajat,MySelf — dzay @ 18:40
Tags: , , ,

Assalamualaikum Wr. Wb.
Yth Bapak Presiden Republik Indonesia

Saya adalah seorang bocah laki-laki berumur 10 th, saya mempunyai kakak perempuan berusia 12 th dan adik berusia 5 th.

Kini kami bertiga telah yatim piatu dan sekarang sudah tidak bersekolah lagi, keadaan yang memaksa kami untuk hidup dijalanan, saya berdagang koran, kakak dan adik saya menjadi pengemis dan pengamen jalanan.

Bermula dari Lumpur itu

Dahulu sebelum bencana itu datang, keluarga kami masih mempunyai kehidupan normal, meski kami hanya hidup dalam rumah kecil dengan sedikit perabotan seadanya. Ayah seorang anak tunggal bekerja sebagai buruh, kemudian berhenti dan berwiraswasta membuka warung kelontong didepan rumah, sedangkan Ibu bekerja sebagai TKW di Timur tengah dan selalu mengirimkan uang tiap bulan kepada keluarga kami.

Kematian Ibu

Enam bulan sebelum lumpur itu menghancurkan rumah kami, musibah terjadi menimpa ibu, Ia hampir diperkosa majikannya tetapi berhasil kabur keluar rumah setelah menusuk majikan nya itu dengan sebuah pisau buah. Tetapi keluarga majikan malah memfitnah ibu dengan fitnah keji, ibu dituduh merayu dan membunuh majikan. Ketika Ibu ditangkap dan didakwa dengan hukuman gantung, Ibu sangat syok, tiada yang membelanya karena semua bukti direkayasa. Pemerintah dalam hal ini KBRI tidak bisa memberikan pertolongan apa-apa, kecuali hanya sekedar simpati. Disana ibu berjuang sendiri, tidak ada yang perduli dengan dirinya yang hanya sebagai korban, dan pertolongan pemerintah sebagai tempat terakhir seakan-akan seperti pungguk merindukan bulan. Para petinggi itu seakan tidak peduli akan nasib ibu, tidak ada usaha untuk membuktikan bahwa ibu difitnah oleh majikannya. Dalam masa penahanannya, ibu mengirim surat-suratnya kepada kami, surat-surat yang membuat kami menangis setiap hari, membuat bapak selalu pingsan dan membuat si bungsu dan kakak perempuanku merintih setiap malam. Hanya aku sebagai anak lelaki yang paling besar yang berusaha tabah dan menyabarkan keluargaku. Hari-hari ceria berubah menjadi kelam, canda tawa kami seketika menghilang dalam gelapnya episode yang akan kami lalui nanti. Sampai suatu ketika dalam surat terakhirnya, ibu menyuruh bapak untuk tabah dan kuat untuk melanjutkan kehidupan keluarga kami, ia memilih jalan yang terhormat ketimbang mati dalam kondisi difitnah. Dua hari setelah itu, kami mendengar ibu tewas bunuh diri didalam penjara. Ternyata jalan terhormat itu yang dimaksud ibu dalam surat terakhirnya adalah gantung diri.

Setelah kematian Ibu, kehidupan berjalan normal kembali dan bapak melaksanakan janjinya, ia tidak terlihat cengeng, bahkan lebih tegar, terbukti dengan niatnya berwiraswasta dengan membuka warung kelontong yang cukup ramai, bahkan bapak nekad meminjam uang untuk menambah modal usahanya. Ia katakan kepadaku kalau ingin besar harus berani mengambil resiko besar pula.

Bencana itu

Roda kehidupan berjalan bagai pedati menarik jerami, ia berputar kadang diatas dan kadang dibawah.
Belum lama kami berhasil tersenyum kembali sejak kematian ibu, bencana yang lebih besar datang, kampung halaman kami terendam lumpur yang berasal dari pipa pengeboran perusahaan swasta.Lumpur itu melululantahkan rumah-rumah kami dan terpaksa kami menjadi pengungsi dikampung halaman sendiri. Rumah kami, sekolah kami, surau kami kini hilang ditelan bumi, memang katanya ada penggantian dari perusahaan itu, tapi ternyata penggantian itu hanya berlaku untuk rumah-rumah yang terdaftar di lembaga penanggulangan lumpur milik pemerintah dengan mengajukan surat-surat tanah, sedang rumah kami, rumah kecil warisan dari kakek kami, yang hanya terletak diujung jalan tidak pernah dihitung oleh mereka. Kami berusaha melaporkan kepada Pak RT, tetapi Pak RT sendiri kami tak tahu dimana rimbanya, beliau sudah pergi entah kemana karena rumahnya pun telah hilang. Ayah kami yang lugu tak tahu harus meminta tolong kepada siapa, dan ia bingung harus melakukan apa, bahkan ia sering berteriak-teriak seperti orang gila karena tak sanggup menahan beban derita yang berkepanjangan karena ganti rugi tak jua dibayar-bayar. Sampai pada suatu ketika, ia menyuruh kami untuk ke Jakarta meneruskan sisa-sisa hidup kami untuk menumpang kepada seorang kerabat ibu disana. Dibekali secarik kertas alamat dan sedikit uang kami bertiga pergi ke jakarta menumpang bus malam diantar tetangga kami.
Sesampai di Jakarta, kami tak tahu harus kemana, kami pun tidak mengerti mengapa ayah menyuruh kami pergi ke kota besar ini, selain ia hanya bilang bahwa kita lebih baik tinggal bersama kerabat ibu yang tinggal disini. Ayah akan berjuang mendapatkan haknya untuk menuntut penggantian uang gantirugi atas rumah kami, begitu katanya sambil tertawa terbahak-bahak sambil menangis. Terakhir, kata tetangga kami ayah kami harus meninggal karena gantung diri sebab tak kuat lagi untuk menahan berat hidup.

Di jakarta, kami luntang-lantung tak tahu harus kemana, sampai akhirnya kami dirazia oleh satpol PP karena disangka kami pengemis dan gelandangan. Dan memang saat itu, tanpa sadar bahwa kami memang telah menjadi gelandangan. Kami tak punya siapa-siapa di kota besar ini, rumah tempat tinggal kami dipaksa untuk hilang dari muka bumi, sekolah kami dan masa depan kami dirampas dengan paksa oleh orang-orang itu yang entah siapa mereka dan apa kesalahan kami. Yang kami tahu kami dan teman-teman kami tercerai berai oleh bencana itu, bencana yang oleh Bapak Presiden dibilang sebagai “Musibah” sedang bagi kami tetaplah sebagai bencana.

Selepas dari pemeriksaan satpol PP, kami ditolong oleh seorang tua penjual koran yang juga tertangkap oleh petugas itu. Ia membawa kami untuk tinggal digubuknya yang sempit seraya berjanji untuk mencari alamat kerabat ibu kami. Digubuk yang terletak disamping rel itu, kami meneruskan sisa-sisa nafas kami, kami tinggalkan masa kanak-kanak kami dengan berjuang untuk bertahan hidup. Saat anak-anak yang lain bercengkerama dengan teman sekolahnya, adik kami yang seharusnya duduk dibangku TK, terpaksa berlari-lari dijalanan untuk mengemis dari satu kendaraan ke kendaraan lain tak peduli kaki mungilnya menghitam dan rambut kritingnya memerah karena sengatan matahari. Setiap ada kendaraan yg lewat dan berhenti, tangan kecilnya tak lupa untuk menengadah berharap ada pengendara yang berbaik hati memberikan sedekahnya. Sedangkan aku, berdiri dan berlari-lari diperempatan jalan sambil meneriakan koran yang aku jajakan sejak subuh tadi, semoga ada pembeli yang mau membaca koranku pagi ini. Dan kakakku, karena ia memiliki suara merdu, ia menjadi pengamen jalanan dengan sebuah kericikan ditangan. Ia yang seharusnya duduk di bangku SMP dengan kecerdasan yang dimilikinya, seharusnya bisa merenda masa depan yang lebih baik. Semua pekerjaan itu kami lakukan dengan terpaksa, dari pagi hingga malam demi menyambung hari esok, demi menggapai impian-impian anak-anak kecil seperti kami.

Bapak Presiden yang saya hormati.

Karena seringnya membaca koran, kini aku menjadi tahu tentang siapa dirimu, dan apa saja yang bisa engkau lakukan dengan kekuatan hebat yang engkau miliki. Karena sering membaca koran itu juga aku bisa menulis surat ini untuk mu, Ternyata engkaulah orang yang selama ini aku cari-cari. Engkaulah orang yang bisa merubah nasib kami dengan sekali perintah saja, orang yang memiliki kesanggupan untuk merubah dunia ditangannya. Orang yang bisa merubah nasib Ibuku jika saat itu ia mau tahu dan membantu dengan bantuan hukum, orang yang bisa mengembalikan rumah kami yang hilang terendam lumpur, orang yang bisa menyembuhkan sakit gila ayahku, orang yang bisa menyekolahkan si bungsu adikku, juga aku dan kakakku, orang yang bisa menampung anak-anak seperti kami dalam rumah yg nyaman, orang yang bisa membuat cerah masa depan kami dan ribuan anak-anak jalanan lainnya yang terjebak dalam kondisi ini bukan karena inilah nasib mereka, tetapi karena dipaksa oleh orang dewasa yang tidak berprikemanusiaan.

Bapak Presiden, yang aku kagumi,

Pagi ini setelah melihat berita engkau dilantik, aku ingin engkau menggunakan kekuatan hebatmu untuk membantu kami menemukan kembali kebahagiaan kami yang hilang. Mengembalikan keceriaan sibungsu, memuluskan kembali jari-jari tangannya yang terbakar aspal dan memutihkan kembali mukanya yang tertutup debu jalanan. Juga mengembalikan tawa riang kakak kami yang menghilang sejak ayah sakit jiwa dan menyegarkan kembali wajahnya yang cantik dengan untaian senyumnya seperti beberapa tahun lalu. Juga membantuku mewujudkan cita-cita Ibu dan harapan ayah pada diriku untuk menjadi orang yang berguna bagi sesama. Engkau Juga adalah orang yang bisa melindungi anak-anak seperti kami yang terpaksa mencari nafkah dijalanan, dari jeratan undang-undang ketertiban milik pemda yang senantiasa bisa menjerat kami kedalam penjara.

Bapak Presiden yang aku hormati,
Jika engkau tidak bisa menggunakan kekuatan hebatmu untuk kami, tidak mengapa, aku tidak akan marah, begitu juga adik dan kakak ku. Kami terbiasa tidak meminta kepada orang lain, kami terbiasa tidak menggantungkan hidup kepada manusia lain. Keluarga kami terbiasa hidup keras dan tidak lemah. Satu-satunya tempat bergantung kami hanyalah Allah, Tuhan pemilik dunia ini, itulah yang sering almarhum ibu sampaikan kepada kami, untuk menghibur diri kami saat kami jauh darinya.
Jika engkau sulit untuk mewujudkan harapan kami, juga harapan ribuan anak jalanan lainnya, juga harapan jutaan kaum yang senasib dengan kami, kami hanya meminta kepada engkau untuk mengaminkan doa kami saja, semoga kami bisa menggantikan posisi engkau ketika kami dewasa nanti. Karena kami ingin menolong orang yang bernasib seperti ibu kami, kami ingin menolong orang yang senasib dengan keluarga kami, juga keluarga-keluarga lainnya yang kurang beruntung hidup dinegeri ini.
Sampaikan salam kami untuk para pembantu engkau, agar beliau juga mengamini doa kami, agar kami dapat menggantikan posisi mereka kelak jika kami besar. Agar Si bungsu kelak akan tercapai cita-citanya menjadi orang yg menyayangi orang lain dengan sepenuh hati seperti sayangnya pak tua penjual koran itu kepada kami, setiap pagi ketika hidup mulai bergulir kembali.

Bapak Presiden yang kami hormati, semoga engkau membaca surat kami.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Dari anak negeri yg terhempas di jalanan karena nasib yang kurang beruntung.

20 Oktober 2009, Tengah malam bertepatan dengan pelantikan Presiden/Wakil Presiden RI periode 2009-2014

Sumber : http://www.rozy.web.id/bengkel-hati/surat-terbuka-untuk-presiden/
Tulisan asli : http://rojalidahlan.blogspot.com/2009/10/surat-terbuka-untuk-bapak-presiden.html

17 Juli 2009

Bom meledak di Jakarta [lagi]

Filed under: Ini Duniaku,munajat — dzay @ 22:55
Tags: , ,

Entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu.

Pagi ini saya terbangun dan kaget melihat posting beberapa teman di plurk tentang korban meninggal dan luka. Ada apa gerangan.. tak berapa lama saya telusuri semua unread respond yang ada di situ.. Akhirnya saya liat sebuah posting tentang ledakan yang terjadi di hotel Ritz Carlton dan J.W Marriot. Syok juga mendengarnya, karena bumi Indonesia terutama Jakarta sudah lama tidak terdengar hal seperti ini.

Obrolan di plurk terus berlanjut, sementara Saya mencari informasi lain dari situs-situs berita. Beberapa situs sangat susah diakses, mungkin trafiknya tinggi karena banyak yang ingin mendapat informasi tentang kejadian ini. Di luar kamar terdengar sayup-sayup suara televisi, akhirnya televisipun jadi sasaran informasi.

Informasi pun meluas.. dari sekdar bom bunuh diri sampe pada pernyataan Pak SBY bahwa poto beliau  menjadi sasaran tembak bagi terorisme yang sedang berlatih. Mengerikan memang.. Sebuah pernyataan yang sebenarnya ditujukan untuk kewaspadaan bersama tapi justru dianggap kontroversial bagi beberapa pihak.

Bertahun-tahun negeri ini tenang, bahkan masih tergolong stabil ketika krisis dunia terjadi lagi di awal tahun ini. Entah apa tujuan mereka merusak kedamaian negeri ini, tindakan itu memang tidak bisa dimaafkan karena dampaknya hampir ke semua bidang kehidupan kita. Bukan hanya pemerintah, bukan hanya Pak SBY, tapi semua rakyat Indonesia.

Semoga keluarga yang terkena musibah bisa diberikan kesabaran dan ketenangan, dan semoga mereka yang meninggal bisa diterima dengan baik di sisi-Nya.. Amin..

Tegarlah Indonesiaku, Kami selalu membelamu..

23 April 2009

(bukan laporan khusus) Banjir itu lagi-lagi melanda kotaku tercinta

Filed under: Ini Duniaku,munajat — dzay @ 14:01

Samarinda, ya itulah kotaku tercinta.. sejak awal tahun ini berkali-kali banjir melanda kotaku ini.. mulai dari sekedar lewat sampe yang menggenang berhari-hari tak surut-surut

Samarinda, sebuah ibukota propinsi, pusat aktivitas warga yang dari kota-kota satelit di Kalimatan Timur ternyata kondisinya sungguh memalukan.. Jalan berlubang dimana mana, aktivitas warga sering terganggu karena listrik padam, serta berkali kali dilanda banjir. Entah kesulitan apalagi yang harus dihadapi warga kota ini..

tulisan ini bukan laporan khusus, ini hanya sebuah keluh kesah seorang warga yang merasa tidak nyaman berada di kampung halamannya sendiri.

Dibalik pembangunan gedung-gedung olahraga yang serba wah dan pusat perbelanjaan dimana-mana, sepertinya banyak yang terlupa oleh pemerintah kota ini. Jalan berlubang yang tidak segera ditambal karena setiap kali hujan selalu saja air menggenang, pembenahan tata kota seperti letak pusat perbelanjaan yang berdampingan dengan pusat kegiatan administrasi kota (baca : balaikota), sepertinya menjadi hal yang sepele. Apakah harus menunggu penggantian Walikota untuk bisa membenahi ini semua..?

Sebagai salah satu warga kota ini, jika ditanya apa yang sudah saya berikan, saya akan jawab peran serta saya dalam pembangunan seperti membayar pajak dan mengikuti setiap prosedur ketika saya memerlukan pelayanan kota. Tapi apa hasilnya..? mengutip sebuah pembicaraan kami dalam sebuah web microblogging, “the jungle has move to the government building” aturan tidak jelas dan hanya berorientasi pada keuntungan pribadi.. terlalu banyak uneg-uneg yang bisa saya utarakan disini, tapi saya tidak mau melebar kemana-mana dan menjadi tidak jelas..

Pastinya, saya sebagai warga kota ini benar-benar tidak bisa merasakan nikmatnya kota ini. Sepertinya harus sedikit bersabar untuk menunggu perubahan yang ada.

8 April 2009

Pemilu Indonesia 2009 (yang miris)

Filed under: Ini Duniaku,munajat — dzay @ 21:56
Tags: ,

Sekali lagi, negara kita tercinta Indonesia diuji dengan sebuah ujian demokrasi yang besar, sebuah ujian yang (sekali lagi) akan menentukan nasib bangsa ini 5 tahun mendatang.

Gema-gema kampanye sudah kita dengar sejak awal tahun ini, dan masih akan berlanjut hingga Pemilu Presiden mendatang. Besok, 9 April 2009, saatnya kita menentukan siapa yang akan mewakili kita di dalam kursi parlemen yang katanya wakil rakyat.

Tidak dipungkiri lagi, pemilu kali ini bisa saja diprediksi unsur GOLPUT akan menjadi unsur terbesar yang pernah ada dalam dunia demokrasi indonesia. Indikasinya dari beberapa Pemilihan Kepala Daerah baik Walikota/Bupati maupun Gubernur. Entah disadari atau tidak oleh para caleg yang besok akan mulai berbagi kursi, tapi kenyataan ini seharusnya bisa menjadi perhatian serius mereka, karena jika digarap dengan benar pastinya unsur GOLPUT tidak akan semakin besar.

Tapi siapa yang mau disalahkan karena dia GOLPUT..? Karena buat mereka GOLPUT itu juga suatu pilihan.. Saya yakin di dalam hati mereka tidak ada keinginan GOLPUT.

Jika.. tidak terlalau banyak janji yang diumbar dan sedikit yang ditepati. Jika.. mereka yang nantinya akan duduk di kursi parlemen adalah benar-benar atas nama rakyat bukan sekedar golongan apalagi pribadi. Jika.. yang terjadi bukan pembodohan kepada rakyat atas nama konstitusi dan undang-undang. Jika.. para calon wakil rakyat ini melek dan benar-benar mengerti apa yang rakyat keluhkan dan butuhkan. Jika.. mereka yang mencalonkan diri ini bersedia mundur dan memiliki rasa malu setidaknya terhadap diri sendiri jika melakukan kesalahan. Jika.. mereka berani bertanggung jawab atas setiap omongan yang mereka lontarkan.

Masih banyak “jika” dan “jika” dan “jika” yang lain yang masih menjadi bukan perkerjaan rumah tapi pekerjaan publik yang harus dikerjakan bersama-sama tapi harus dengan contoh atau tauladan dari orang-orang yang bersedia mengangkat diri mereka untuk mengurus negeri ini.

Entah formula apa yang harus kita gunakan untuk mendapatkan orang-orang yang terbaik di negeri kita tercinta ini.

Semoga saja mimpi indah negeriku yang hijau ini masih bisa terlihat 5 tahun ke depan.. Amien..

25 Maret 2009

Vote for earth hour, save the earth

Filed under: Ini Duniaku,munajat — dzay @ 18:00
Tags:

Setiap hari kita mendengar istilah pemanasan global yang terjadi di bumi kita tercinta ini. Beberapa dari kita pun sudah merasakan dampak dari pemanasan global ini. Lalu apakah kita sudah berbuat untuk bumi kita tercinta ini..?

Jika belum, maka sekarang saatnya. Dari hal yang paling mudah kita lakukan, membuat lingkungan sekitar rumah kita menjadi hijau, mengurangi penggunaan energi yang tidak diperlukan dan hal-hal lain yang bisa membuat bumi kita menjadi lebih segar.

Sabtu, 28 Maret ini pada pukul 20.30 adalah earth hour. Kita mematikan semua energi listrik yang ada di rumah, kantor dan semua tempat untuk mengurangi beban bumi kita akan gas karbon yang menyebabkan pemanasan global. Untuk lebih lanjutnya silahkan buka di http://www.earthhour.wwf.or.id/faq.html

Semua dari kita setidaknya melakukan hal-hal kecil ini untuk membantu mengurangi beban bumi kita tercinta ini. Karena kita tinggal di bumi ini bukan untuk kita, tetapi untuk anak cucu kita. Kita tidak ingin masa-masa yang mengerikan nantinya menghampiri anak cucu kita karena kesalahan kita..

Let’s vote for earth hour to save our beloved earth…

UPDATE @ 27 Maret 2009, 23:30

Sedikit agak miris waktu denger komentar teman-teman soal earth hour. Bukan salah mereka sebenarnya karena kondisi kami di Samarinda sudah terbiasa dengan listrik padam. Sampe ada yang berkomentar “Sampai2 kita smua kangen…kpn mati lampu lg ya….

Berikut sedikit saya sajikan informasi mengenai earth hour.

• 300MW (cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa)
• Mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta
• Mengurangi emisi sekitar 284 ton CO2
• Menyelamatkan lebih dari 284 pohon
• Menghasilkan O2 untuk lebih dari 568 orang

memang betul program ini sementara untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, dan kenapa jakarta:
Konsumsi listrik di Indonesia masih terkonsentrasi di Jawa, yakni pada 2007 mencapai sekitar 77% dari konsumsi nasional, dan sekitar 20% pengguna listrik di Indonesia berada di Jakarta, sedangkan untuk pasokan listrik di daerah lain di Indonesia masih berbagi dalam jumlah yang lebih kecil.Total konsumsi listrik wilayah DKI Jakarta dan Tangerang adalah 23% dari total konsumsi listrik di seluruh Indonesia, dengan komposisi terbesar sebagai berikut:

• 34% berasal dari sektor rumah tangga (sebagian besar di DKI Jakarta)
• 30% berasal dari sektor industri (sebagian besar di Tangerang)
• 29% dari sektor bisnis (sebagian besar di DKI Jakarta)

Earth hour hanya satu hal yang bisa kita lakukan, tujuannya bukan sekedar listrik padam satu jam lalu bisa berdampak besar pada perbaikan bumu kita, tujuan utamanya lebih pada

  • Mendapat dukungan dan partisipasi pemerintah, pelaku bisnis, dan publik
  • Mengedukasi publik untuk melakukan perubahan gaya hidup sehari-hari demi menurunkan emisi karbon dioksida dan mengurangi dampak perubahan iklim
  • Mengukur kontribusi dan perubahan yang dapat dilakukan oleh kita dalam upaya penurunan emisi karbon dioksida (jika dilakukan tiap tahun atau menjadi program tahunan pemerintah kita)
  • Berkontribusi dalam kampanye global untuk membuktikan bahwa dengan bekerja sama kita bisa membuat perubahan besar

Saya tegaskan bahwa ini bukan soal latah-latahan, ini soal kepedulian dan ketegasan kita akan kerusakan ekosistem bumi yang makin parah.

Halaman Berikutnya »

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.